FMIPA Unsyiah Gelar Webinar Cara Mengajar di Era New Normal

27-07-20 Al Mudatstsir Za (@yasierza) 0 comment

Banda Aceh,  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) kembali menggelar seri kedua Webinar yang bertemakan “Cara Tak Biasa Mengajar Matematika dan Sains di Era New Normal” (Rabu,22/7) pagi. Kegiatan ini diikuti sekitar 300 orang peserta yang dilaksanakan menggunakan fasilitas Zoom. Webinar ini menghadirkan empat orang pakar di bidangnya yang mengupas bagaimana tantangan dan strategi dalam mengajar di era new normal. Keempat narasumber tersebut adalah Zulkifli, S.Pd. M.Pd selaku Kepala Bidang Pembinaan SMA dan PLKK dari Dinas Pendidikan Aceh, Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin, S.Si, M.Tech, guru besar Fakultas MIPA Unsyiah yang juga peneliti dan penggiat IT, Dr. Rini Oktavia, M.Si, MA  selaku dosen Jurusan Matematika FMIPA Unsyiah sekaligus peneliti dan penggiat Pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics), dan Dr. rer. nat. Ilham Maulana, S.Si selaku pengamat pendidikan dan dosen di Jurusan Kimia FMIPA Unsyiah.

Webinar yang juga disiarkan langsung di akun Youtube FMIPA Unsyiah  ini dibuka oleh Dekan FMIPA Unsyiah, Dr. T.M Iqbalsyah, S.Si., M.Sc. Iqbal menyampaikan bahwa pandemi covid ini telah mempengaruhi berbagai sector termasuk sector pendidikan. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh FMIPA Unsyiah, diperoleh hasil bahwa ternyata kita belum siap menghadapi pembelajaran daring seperti apa yang diharapkan. Terutama pembelajaran Matematika dan Sains yang tidak mudah dilakukan di era new normal ini. Webinar ini diharapkan dapat memberikan saran dan masukan bagi guru-guru untuk mempersiapkan bagaimana cara pembelajaran di era new normal.

Mendapat kesempatan pertama dalam penyampaian materi, Zulkifli S.Pd, M. Pd menyampaikan bahwa  berdasarkan keputusan bersama menteri, kebijakan pembelajaran secara tatap muka hanya dapat dijalankan oleh daerah yang termasuk ke dalam zona hijau dan mendapatkan rekomendasi dari gugus covid di daerah tersebut. Beliau juga menyampaikan beberapa tantangan dan hambatan dalam perkuliahan secara daring seperti tidak semua daerah memiliki kualitas internet yang memadai, ketidaksiapan guru dalam menghadapi pembelajaran daring, hingga keterbatasan peserta didik dalam menyediakan paket internet. Selain itu peran orang tua juga sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran daring ini.

Pemateri selanjutnya, Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin, S.Si., M.Tech memaparkan tentang gagasan untuk pembelajaran daring  yakni keharusan menanamkan pola pikir baru, harus ada regulasi yang baik tentang pembelajaran jarak jauh dan sifat adaptif dari guru atau pendidik. Beberapa alternative platform dapat digunakan dalam pembelajaran daring seperti Piaza, Google Classroom, Moodle, dan Whats up. Masing-masing platform ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga diharapkan pendidik mampu mengkombinasikan penggunaan platform tersebut dalam proses belajar. Di akhir materi, Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin, S.Si., M.Tech menyampaikan informasi bahwa Universitas Syiah Kuala juga akan membuka  Program Studi S2 Data Sains dan Artifisial Intelejen. Program studi ini dibentuk melalui konsorsium 9 universitas dari beberapa negara, salah satunya adalah Leiden University di Belanda.

Tidak kalah menarik, narasumber ketiga dalam webinar ini Dr. Rini Oktavia, M.Si, MA  memaparkan apa itu STEM dan cara pembelajaran metode STEM ini. Proses pembelajaran dengan STEM sangat baik untuk dilakukan karena menitikberatkan pada permasalahan nyata atau problem based learning. Selain itu, dalam STEM kolaborasi dan kemampuan mengkomunikasikan hasil perkerjaan siswa juga merupakan hal yang sangat diperlukan yang mana hal ini tidak diperhatikan dalam proses pembelajaran matematika dan sains secara tradisional. Sebagai salah satu anggota dari Pusat Riset STEM Unsyiah, Dr. Rini Oktavia, M.Si, MA juga menceritakan bagaimana perkembangan kegiatan pusat riset ini dan kerja sama internasional yang telah dilakukan. Di akhir materi, beliau memberikan contoh assessment yang baik dalam pembelajaran daring menggunakan Google Form.

Selanjutnya sebagai pemateri terakhir, Dr. rer. nat. Ilham Maulana, S.Si selaku dosen Program Studi Kimia dan Wakil Dekan 3 FMIPA Unsyiah menyampaikan materi dengan judul yang cukup menggelitik yaitu “Daring atau Garing?”. Banyak kesalahpahaman pendidik dalam memahami fenomena pembelajaran daring. Beliau menjelaskan bagaimana pembelajaran daring yang seharusnya dilakukan. Salah satunya adalah dengan menitikberatkan pada proses bukan hasil. Cara mendapatkan jawaban dari suatu masalah lebih penting daripada jawaban yang diperoleh. Beberapa laternatif solusi juga beliau berikan yaitu guru harus rela memberikan pembelajaran yang berkesinambungan, perlu adanya target kurikulum yang perlu jelas, perlunya semangat dan motivasi yang mana jarang didapatkan oleh guru serta adanya kontak langsung peserta didik dengan objek sains.

Sebagai penutup, Dr. Nasrullah Zaini, S.Si, M.Si, M.Sc selaku moderator menyampaikan bahwa dalam kondisi kini kita dihadapkan pada pilihan apakah kita ingin menjadi pemenang atau menjadi orang yang kalah. Kita boleh takut dengan covid namun hal ini tidak boleh menyurutkan pendidikan anak-anak kita. Mari bersama kita meningkatkan fasilitas saranan dan prasarana sehingga proses pembelajaran daring ini menjadi lebih efektif. **